Tidak banyak yang mengenal KH Tb Ahmad Chatib. Pusaranya di komplek pemakaman Banten Lama bagian utara tidak cukup mendukung mengenalkan jati diri Residen pertama Banten pasca kemerdekaan yang memerintah pada 1945-1949.
Catatan seputar perjuangan kemerdekaan di Banten tidak banyak mencatat keberadaan KH Tb Ahmad Chatib.
Ulama masyhur cucu dari Kiai Wasyid yang lahir pada 1895 dan wafat 1966 ini adalah Residen Banten yang diangkat oleh Presiden RI Soekarno pada 19 September 1945. Kenangan terhadap sosok yang satu ini hanya tertinggal menjadi nama jalan di Kelurahan Cipare, Serang. Ini karena, nama beliau tidak tercatat dalam deretan panjang pejuang nasional.
Padahal, pada masa pemerintahannya, Oeang Republik Indonesia Daerah Banten (Oeridab) dicetak sebagai alat transaksi yang sah. Di dalam mata uang ini tertera tanda tangan KH Tb Ahmad Chatib sebagai Residen Banten. Tapi sayang, uang peninggalan beliau tidak ditemukan di musium kepurbakalaan di komplek Banten Lama.
“Pada masa hidupnya, beliau adalah orang yang tergolong sederhana. Sampai akhir hayatnya beliau bukan termasuk orang yang bergelimang harta,” terang KH Tb Fathul Adzhim Chatib, anak ke-6 KH Tb Ahmad Chatib dari istri ketiga.
Semasa hidupnya, kiai yang pernah menjadi Komandan Batalyon I Peta di Labuan-Banten ini sempat berhadapan dengan pemberontakan Ce Mamat atau Mohammad Mansyur, pemimpin Dewan Rakyat yang juga tokoh jawara yang pernah terlibat dalam pemberontakan PKI 1926 yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya.
Beliau menginstruksikan kepada Brigadir Jenderal KH Syamun untuk menumpas gerakan tersebut. Kemudian, datang juga bantuan TKR dari pemerintah pusat yang dipimpin oleh Sukanda Bratamanggala. Akhirnya Dewan Rakyat pun dapat dibubarkan.
Pada masa pemerintahannya, Achmad Chatib mendirikan majelis ulama yang berfungsi sebagai Badan Penasihat dan Pengawas Residen. Anggota majelis berjumlah 40 orang yang semuanya adalah tokoh ulama yang disegani masyarakat Banten. Dengan demikian pada penggalan sejarah Indonesia, pernah terjadi suatu pemerintahan yang dijalankan dan diawasi oleh para ulama, seperti majelis syura zaman Rasulullah Muhammad SAW.
“Pejuang seperti KH Tb Ahmad Chatib sudah sepatutnya diangkat sebagai pahlawan nasional. Sampai saat ini, pejuang nasional dari Banten yang diakui hanya Sultan Maulana Hasanudin dan Maulana Yusuf,” ujar KH Mas Muis Muslih, Sekretaris Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Banten.
Menurutnya, para pejuang pasca proklamasi menggambarkan para alim ulama di negeri ini sanggup memegang jabatan apa saja yang diamanatkan rakyat mulai dari residen, bupati, wedana sampai dengan birokrasi di bawahnya. Mereka juga mampu menjadi pimpinan militer tertinggi di daerah. Bahkan berhasil mendirikan Dewan Legislatif yang saat itu dinamakan Majelis Ulama. (lai)(Sumber: Radar Banten)
1 Comment:
-
- HIMSAC said...
1 November 2009 01:16kalau ada yang punya fhoto kh.tb.a.khotib harap kasih tau ya....thanks
