SUSUNAN KEPENGURUSAN
HIMPUNAN MAHASISWA SERANG & CILEGON
HIMSAC LAMPUNG PERIODE 2009-2010
Dewan Penasehat :
1. M. Syatibi C.H., S.E.
2. H. Mukri MZ
3. Drs. Budiharjo
4. Ir. Syamsul Rizal, M.Si.
5. Rina Wati, M.Si
6. Ade Utami Ibnu, S.E.
Dewan Pembina :
1. Rifqi Fatkhurrosyidin (PFK 2004)
2. Ratna (FE 2004)
3. Akhmad Cepi Arif (FP 2004)
4. Lukmanul Hakim (FMIPA 2004)
5. Iman Lukmanul Hakim (FMIPA 2005)
6. Hani Rufaidah (FMIPA 2005)
Ketua Umum : Dika Ferdiansyah (FMIPA 2006)
Wakil Ketua Umum : Sinta Dewi (FP 2006)
Sekretaris Umum : Tb. Ahmad Hizbullah (FMIPA 2006)
Bendahara Umum : Rara Ayu Lestari (FE 2006)
I. Bidang Pendidikan dan Kajian Keislaman
Kepala Bidang : Ahmad Rifai (FMIPA 2006)
Sekretaris Bidang : Emi Meiriyati (FKIP 2008)
Anggota : Widi Wiriadipraja (FKIP 2008)
Ujang Faturohman (FT 2008)
II. Bidang PSDM
Kepala Bidang : Rizky Godjali (FISIP 2006)
Sekretaris Bidang : Tiara Dwi S (FE 2007)
Anggota : Rangga (FKIP 2008)
Muhammad Isa (FKIP 2008)
III. Bidang Sosial Masyarakat
Kepala Bidang : Wawan Sofwan (FMIPA 2006)
Sekretaris Bidang : Mia Amelia (FMIPA 2007)
Anggota : Ratih Putria (FKIP 2006)
Lala (FH 2008)
IV. Bidang Dana dan Usaha
Kepala Bidang : Kurratul Uyun (FMIPA 2006)
Sekretaris Bidang : Arif Muhajir (FMIPA 2006)
Anggota : Rekha Nova Iyos (PFK 2006)
Muhammad Fath W (FT 2007)
V. Biro Griya Baca Himsac
Kepala Biro : Hidayat (FT 2006)
Sekretaris Biro : Nova (FMIPA 2007)
Anggota : Ratu Reni (PFK 2007)
Hasan (DF 2008)
VI. Biro Rumah Tangga
Kepala Biro : Ade Faturohman (FMIPA 2007)
Sekretaris Biro : Titin Nurmamluhah (FKIP 2006)
Anggota : Afiah (FKIP 2006)
Syueb (FP 2008)
By : Tb.A.Hizbullah (Sekertaris Umum HIMSAC)
Label: Susunan Pengurus HIMSAC
ssalamualaikum Wr. Wb.
Akang, Teteh, temen2 Himsac semuanya.
kepengurusan 2009/2010 kali ini insyaAllah akan mengadakan kegiatan
re-launching Griya Baca Himsac pada tanggal 26 Desember 2009.
Untuk semua pengurus diharapkan kesiapannya...
saran, ide-ide kreatif yang bermanfaat untuk griya baca Himsac bisa
ditujukan ke kepala biro griya Baca Himsac Hidayat (o85279352156) atau
ke Dika Ferdiansyah (085669920968).
TTD : Ketua Umum HIMSAC, Dika Ferdiansyah
Label: Info HIMSAC
Tidak banyak yang mengenal KH Tb Ahmad Chatib. Pusaranya di komplek pemakaman Banten Lama bagian utara tidak cukup mendukung mengenalkan jati diri Residen pertama Banten pasca kemerdekaan yang memerintah pada 1945-1949.
Catatan seputar perjuangan kemerdekaan di Banten tidak banyak mencatat keberadaan KH Tb Ahmad Chatib.
Ulama masyhur cucu dari Kiai Wasyid yang lahir pada 1895 dan wafat 1966 ini adalah Residen Banten yang diangkat oleh Presiden RI Soekarno pada 19 September 1945. Kenangan terhadap sosok yang satu ini hanya tertinggal menjadi nama jalan di Kelurahan Cipare, Serang. Ini karena, nama beliau tidak tercatat dalam deretan panjang pejuang nasional.
Padahal, pada masa pemerintahannya, Oeang Republik Indonesia Daerah Banten (Oeridab) dicetak sebagai alat transaksi yang sah. Di dalam mata uang ini tertera tanda tangan KH Tb Ahmad Chatib sebagai Residen Banten. Tapi sayang, uang peninggalan beliau tidak ditemukan di musium kepurbakalaan di komplek Banten Lama.
“Pada masa hidupnya, beliau adalah orang yang tergolong sederhana. Sampai akhir hayatnya beliau bukan termasuk orang yang bergelimang harta,” terang KH Tb Fathul Adzhim Chatib, anak ke-6 KH Tb Ahmad Chatib dari istri ketiga.
Semasa hidupnya, kiai yang pernah menjadi Komandan Batalyon I Peta di Labuan-Banten ini sempat berhadapan dengan pemberontakan Ce Mamat atau Mohammad Mansyur, pemimpin Dewan Rakyat yang juga tokoh jawara yang pernah terlibat dalam pemberontakan PKI 1926 yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya.
Beliau menginstruksikan kepada Brigadir Jenderal KH Syamun untuk menumpas gerakan tersebut. Kemudian, datang juga bantuan TKR dari pemerintah pusat yang dipimpin oleh Sukanda Bratamanggala. Akhirnya Dewan Rakyat pun dapat dibubarkan.
Pada masa pemerintahannya, Achmad Chatib mendirikan majelis ulama yang berfungsi sebagai Badan Penasihat dan Pengawas Residen. Anggota majelis berjumlah 40 orang yang semuanya adalah tokoh ulama yang disegani masyarakat Banten. Dengan demikian pada penggalan sejarah Indonesia, pernah terjadi suatu pemerintahan yang dijalankan dan diawasi oleh para ulama, seperti majelis syura zaman Rasulullah Muhammad SAW.
“Pejuang seperti KH Tb Ahmad Chatib sudah sepatutnya diangkat sebagai pahlawan nasional. Sampai saat ini, pejuang nasional dari Banten yang diakui hanya Sultan Maulana Hasanudin dan Maulana Yusuf,” ujar KH Mas Muis Muslih, Sekretaris Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Banten.
Menurutnya, para pejuang pasca proklamasi menggambarkan para alim ulama di negeri ini sanggup memegang jabatan apa saja yang diamanatkan rakyat mulai dari residen, bupati, wedana sampai dengan birokrasi di bawahnya. Mereka juga mampu menjadi pimpinan militer tertinggi di daerah. Bahkan berhasil mendirikan Dewan Legislatif yang saat itu dinamakan Majelis Ulama. (lai)(Sumber: Radar Banten)
